Sabtu, 25 Februari 2012

Batik Lasem di Jakarta

Anda Mencari Batik lasem di Jakarta silahkan hubungi sentra batik lasem, batik lasem memang tergolong batik yang sangat unik sehingga banyak warga jakarta terutama kalangan kolektor batik. batik lasem di jakarta memang agak langka tetapi kami melayani penjualan secara Online atau ofline sampai di jakarta baik jakarta pusat, jakarta utara serta jakarta timur dan bekasi. batik tulis lasem memang sangat berbeda dengan batik-batik yang berasal dari daerah lainnya selain batik lasem ini makin lama makin bagus batik lasem ini tersedia dalam berbagai motif, kami melayani pemjualan secara Grosir dan Eceran untuk informasi penjualan batik di Jakarta dan sekitarnya silahkan anda kinjungi Sentra Batik Lasem

Batik Laseman

Batik Laseman atau yang dikenal dengan batik tulis lasem adalah jenis batik yang sudah ada sejak tahun 1314 M atau sejak kedatangannya  Laksamana cheng ho batik laseman ini memang tergolong batik yang bagus serta batik yang elegan. Batik Laseman sangat diminati oleh para colektor baik baik dari indonesia sendiri maupun dari manca negara karna batik laseman ini pernah mengalami masa kejayaannya sehingga sampai di Ekspor ke tailand dan Taiwan pada abad XIX. batik laseman ini memiliki beberapa motif antara lain Motif bunga yang disebut dengan Motif Sekar seperti batik lasem sekar jagad, batik lasem siang malam, serta batik laseman dengan motif lainnya seperti motif parang, batik laseman motif kawung, batik laseman motif krecak dan lain sebagainya untuk informasi batik laseman dengan berbagai macam Jenis silahkan anda kunjungi Sentra Batik Lasem

Kamis, 23 Februari 2012

Sejarah Batik Tulis Lasem

Sejarah Batik Lasem erat hubungannya dengan kedatangan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1413. Babad Lasem karangan Mpu Santri Badra di tahun 1401 Saka ( 1479 M,), ditulis ulang oleh R Panji Kamzah tahun 1858 menyebutkan, anak buah kapal Dhang Puhawang Tzeng Ho dari Negara Tiong Hwa, Bi Nang Un dan istrinya Na Li Ni memilih menetap di Bonag setelah melihat keindahan alam Jawa.
Di tempat mukim baru ini, Na Li Ni mulai membatik bermotifkan burung hong, liong, bunga seruni, banji, mata uang dan warna merah darah ayam khas Tiong Hwa. Motif ini menjadi ciri khas unik Batik Lasem.
Keunikan Batik Lasem itu mendapat tempat penting di dunia perdagangan. Pedagang antarpulau dengan kapal kemudian mengirim Batik Lasem ke seluruh wilayah Nusantara. Bahkan diawal abad XIX Batik Lasem sempat diekspor ke

Batik Tulis Lasem Lok Can

Batik Lasem Lok Can sangat familiar di komunitas pecinta batik nusantara. Batik Lasem Lok Can bernilai seni tinggi dan sarat dengan makna filosofis kehidupan. Wajar jika para kolektor batik selalu memburu Batik Lasem Lok Can.
Batik Lasem Lok Can awalnya selalu dibuat berbahan sutera (bahasa Cina: Can = sutera). Warna motif dominan biru, khususnya biru muda (bahasa Cina: Lok = biru), dan warna latar belakang putih atau krem.
Namun kini, banyak dijumpai Batik Lasem Lok Can berbahan katun primis super halus dengan variasi warna yang semakin menarik dan terjangkau harganya.
Ornamen utama motif Batik Lasem Lok Can sesungguhnya berupa stailisasi burung hong (phoenix). Meski adakalanya dimodifikasi dengan motif burung kecil, seperti wallet atau sriti, yang banyak terdapat di Lasem. Stailisasi The Phoenix selalu diharmonisasikan dengan motif flora dan bahkan fauna.
Selain bernilai artstic estetis, Batik Lasem Lok Can memiliki makna sosial filosofis. Burung Phoenix (Hong) melambangkan kebajikan, prestasi, dan keabadian.
Jadi, jika Anda menginginkan aura kebajikan dan prestasi selalu terpatri di dalam aura pribadi Anda, sering-seringlah berbusana Batik Lasem Lok Can.
Busana Batik Lasem Lok Can membantu memotivasi Anda untuk menjadi pribadi plus yang penuh kebajikan dan berprestasi moncer. Amien.

Batik Tulis Lasem Naga

Batik Lasem tidak bisa lepas dari invansi makhluk mitologi bernama naga. The Dragon selalu datang, meliuk dalam ornamen utama motif Batik Lasem. Keberadaan ular raksasa ganas ini tidak membahayakan. Sang Naga justru memoncerkan eleganitas keindahan Batik Lasem. Ornamen Naga menjadi bagian penting dari keanekaragaman motif Batik Lasem, karena eksotismenya mampu memperkokoh ekesitensi Batik Lasem.
Terbukti, Batik Lasem Naga, khususnya batik lawas/batik kuno, menjadi salah satu motif batik pesisiran yang diburu kolektor batik art.
Batik Lasem Naga memiliki karakteristik yang berbeda dengan batik naga dari daerah lain. Dari detail ornament The Dragons, tampak jelas, Batik Lasem Naga sangat orientalis. Tampilan naga dengan tanduk, sungut, dan cakar, menandakan Liong atau Lung begitu dominatif.
Dominasi Liong dipertegas stailisasi Kilin yang bersuka ria memperebutkan bola api di tumpal. Isen-isen Phoenix atau Burung Hong yang bersimbiosis dengan aneka flora semakin memperdalam eksistensi Lung dalam ragam hias Batik Lasem.
Filosofisasi Liong dalam Batik Lasem tidak bisa dipungkiri. Selain sarat nilai seni yang tinggi, Batik Lasem Naga diintepretasikan sebagai refleksi harapan-harapan mulia, serta simbolisasi perjalanan spiritualisme.
Dalam tradisi Cina, Naga berkaitan erat dengan sumber kekuatan alam. Wajar jika akhirnya Sang Naga selalu melambangkan kekuatan alam yang maha dahsyat layaknya angin taufan.
Tidak hanya itu, Naga juga dipersonifikasi sebagai penjelmaan roh orang suci yang belum bisa masuk surga. Roh orang suci menjelma menjadi Naga kecil yang masuk ke bumi untuk tidur dan meditasi dalam waktu lama. Setelah tubuh tumbuh membesar, Naga bangun, bangkit, dan terbang ke surga.
Warna Naga juga bermakna filosofis. Naga Merah, Naga Biru, Naga Putih, hingga mencapai Naga Emas, merupakan simbolisasi stratifikasi spritualisme. Perbedaan warna naga bermakna perjalanan langkah demi langkah menuju nirwana.
Namun, Batik Lasem Naga tetaplah multi tafsir. Stailisasi dan visualisasi Naga dalam ornamen utama motif Batik Lasem selalu terbuka bagi tumbuh berkembangnya intepretasi lintas tradisi.
Setiap orang, termasuk Anda, bebas mengapresiasi Batik Lasem Naga dari segala perspektif. So, Batik Lasem Naga memang layak untuk dikoleksi. Informasi lebih lengkapnya silahkan anda kunjungi   Batik lasem Naga

Cara Merawat Batik Lasem

Keindahan Batik Tulis Lasem (Lasem Batik Sentra) harus selalu dijaga. Nilai artistik estetik kain, warna dan motif Batik Lasem jangan sampai rusak akibat tidak paham cara merawatnya.
Tidak sulit merawat keindahan Batik Tulis Lasem. Ada tips standard yang biasa digunakan untuk merawat kain, warna, dan ornament motif Batik Lasem.
Berikut tips cara merawat dan menjaga keindahan Batik Tulis Lasem selengkapnya:
Busana Batik Tulis Lasem sebaiknya dicuci dengan tangan, bukan dengan mesin cuci.
Gunakan sabun yang ringan (mild detergent), lebih baik lagi jika menggunakan lerak. Aroma buah lerak mampu mencegah munculnya serangga yang bisa merusak kain Batik Tulis Lasem.
Jangan sekali-kali merendam kain Batik Tulis Lasem.
Saat mencuci kain Batik Tulis Lasem jangan disikat. cukup dikucek sebentar dan bilas.
Apabila ada noda membandel yang sulit dihilangkan dengan lerak, sabun, dan sampo, Anda bisa menggunakan kulit jeruk Bersihkan di bagian yang ternoda saja, bukan di seluruh permukaan kain Batik Tulis Lasem.
Jangan memeras saat hendak menjemur kain Batik Tulis Lasem.
Jangan menjemur Batik Tulis Lasem di terik panas matahari langsung, tujuannya agar warna batik tidak mudah luntur. Cukup diangin-anginkan saja. Bentangkan atau digantung sesuai model busana di tempat yang teduh.
Saat menyetrika kain Batik Tulis Lasem gunakan suhu sedang.
Jangan menyemprotkan pewangi atau parfum secara langsung ke busana Batik Tulis Lasem, khususnya yang berbahan sutera dengan pewarna alami.
Asapi dengan dupa ratus selama 1-3 jam, untuk memberi aroma wangi khas pada kain Batik Tulis Lasem.
Simpan busana Batik Tulis Lasem secara tergantung, jangan dilipat. Khusus untuk kain atau sarung, disimpan dengan cara digulung. Selain untuk menjaga kerapaian batik, cara ini mampu menghindarkan terjadinya kerusakan permanen pada bagian lipatan kain, seperti robek atau lapuk.
Gunakan kapur barus untuk menangkal serangan ngengat dan mempertahankan kondisi kain Batik Tulis Lasem. Masukan kapur barus ke dalam kantung kain katun atau flannel agar tidak menodai busana Batik Tulis Lasem.
Cengkeh dan mrica juga bisa digunakan untuk merawat kain Batik Tulis Lasem. Masukkan cengkeh atau mrica ke dalam kantung katun atau flannel, lalu letakkan di dalam lemari.
Setiap 3 bulan sekali, keluarkan semua busana, kain dan sarung Batik Tulis Lasem dari lemari, khususnya yang tidak dipakai dalam jangka waktu lama. Angin-anginkan dari kelembaban dan bau apek, sehingga terhindar dari jamur.
Oke, lakukan tips ini dengan sungguh-sungguh, sehingga keindahan warna, motif, dan corak Batik Tulis Lasem koleksi Anda selalu terjaga.

Motif Penentu Harga Batik Lasem

Selain bahan dan warna, motif menjadi faktor penting yang menentukan harga Batik Lasem. Harga bahan dan warna Batik Lasem bisa dikalkulasi secara mudah. Tapi, biaya pembuatan motif Batik Tulis Lasem sering kali sulit dihitung. Mengapa?
Motif dalam pembuatan Batik Lasem sangat bergantung pada sense of art pembatiknya. Semakin hebat jiwa seninya, semakin mahal bayaran pembatik tersebut.
Dan karena Batik Lasem ini soal nilai seni, intepretasinya sering kali bersifat sangat personal. Akibatnya dalam menentukan harga Batik Lasem sering kali sulit dimengerti, sehingga fungsi kalkulator nyaris tidak berarti.
Namun intinya, semakin sederhana motif Batik Lasem semakin murah biaya pembuatannya. Sebaliknya semakin rumit dan unik motif Batik Tulis Lasem, semakin mahal pula harganya.
Untuk Batik Lasem motif sederhana, pembatik mau dibayar puluhan ribu rupiah. Pembatik bisa menyelesaikan Batik Lasem dengan motif sederhana dalam waktu beberapa hari saja.
Batik Lasem motif sederhana biasanya dibuat dibahan katun prima dan satu warna. Harga satu Batik Lasem kelas ini Rp 200.000 ke bawah.
Sebaliknya untuk Batik Lasem bermotif unik dan rumit, biaya pembuatanya bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Ada seniman batik yang hanya mau dibayar di atas Rp500.000 untuk satu Batik Lasem. Tentunya, hasil karya seniman batik ini menjadi Exclusive Batik Art yang harganya bisa mencapai jutaan rupiah.
Seniman batik ini memiliki kemampuan dan kesabaran di atas rata-rata pembatik. Mereka biasa menyelesaikan satu batik dalam beberapa minggu, bahkan beberapa bulan. Mereka telaten dan teliti saat menumpahkan idenya ke dalam detail-detail motif yang kecil-kecil. Tidak sekedar rumit, seniman batik ini juga selalu dituntut menghasilkan Batik Lasem dengan motif yang unik dan tinggi nilai artistic estetis-nya.
Sayang, seniman batik macam ini jumlahnya sedikit. Jadi beruntunglah Anda bila sudah mengoleksi Batik Lasem nan indah karya mereka. Exclusive Lasem Batik Art ini selalu dibuat dengan jumlah sangat terbatas, sehingga tidak bisa dimiliki oleh kebanyakan orang.
Jadi bukan kemustahilan, jika Batik Lasem menjadi salah satu instrument investasi yang sangat menguntungkan di masa depan.

Warna Penentu Harga Batik Lasem

Batik Tulis Lasem seharusnya berharga murah, bukankah bahan katun primis harganya cuma puluhan ribu rupiah untuk selembar batik? Pertanyaan seperti ini sering muncul. Dan jawabnya adalah selain bahan/kain, ada faktor lain sebagai penentu harga Batik Lasem, salah satunya warna.
Selain keunikan motif, warna menjadi roh dan nilai tertinggi Lasem Batik Art (Seni Batik Tulis Lasem). Warna legendaris Batik Tulis Lasem adalah merah darah. Keabadian keindahan warna merah darah ini sudah terpatri dalam catatan sejarah Batik Indonesia . Konon tidak ada pembatik di daerah lain yang bisa membuat warna merah darah seindah merah darah Batik Tulis Lasem
Namun demikian, arus zaman telah membawa Batik Tulis Lasem ke era penuh warna. Kini Batik Tulis Lasem sangat color full. Keindahan warna merah darah sering diselaraskan dengan warna-warna lain, terutama warna khas daerah lain. Hasilnya, tampilan Batik Tulis Lasem semakin memancarkan aura keindahan multicultural.
Keindahan warna warni Batik Tulis Lasem ini tentu saja ada harganya. Jumlah warna menentukan jumlah harga. Semakin banyak warna yang memancar, semakin tinggi pula harganya.
Mengapa? Karena setiap satu warna yang tertera di dalam Batik Tulis Lasem membutuhkan dana minimal Rp25.000. Jadi, jika Batik Tulis Lasem memiliki tiga warna (Tiga Negeri), berarti batik ini membutuhkan dana minimal Rp75.000 hanya untuk pewarnaannya saja.
Nah, sekarang Anda bisa menghitung sendiri harga Batik Tulis Lasem berdasarkan jumlah warnanya. Namun yang perlu juga Anda ketahui, harga warna ini tentu bergantung juga pada kualitas zat pewarnanya. Semakin bagus kualitas zat warna, semakin mahal harga satu warnanya.
Selain, itu kualitas warna Batik Tulis Lasem juga ditentukan saat proses awal pembatikan. Misalnya, saat persiapan pembatikan ada yang namanya tahap ukelan, yakni tahap memadatkan dan merapatkan pori-pori kain katun primis untuk menghasilkan warna batik yang sempurna.
Proses ukelan ini pasti menambah biaya pembuatan Batik Tulis Lasem , karena dilakukan dalam waktu tiga hari dan dikerjakan oleh beberapa tenaga kerja. Sudah kasat mata, dalam tahap persiapan saja sudah memerlukan biaya yang cukup besar.
Meski demikian, kami tetap menjalankan tahap ukelan ini, meski banyak pengrajin Batik Tulis Lasem yang lain sudah meninggalkannya karena alasan waktu dan biaya. Proses ukelan ini sangat penting dilakukan, karena kami berkomitmen menghasilkan Batik Tulis Lasem berkualitas tinggi. (bersambung ke…. harga berdasar motif)

Bahan Warna Batik Lasem

Warna menjadi salah satu penentu keindahan Batik Lasem. Warna merah darah ayam yang tersohor indah adalah warna asli Batik Lasem. Keindahan warna Batik Lasem pada intinya berasal dari dua jenis bahan pewarna, yakni
1.Bahan Warna Alami, yakni bahan warna dari tumbuhan asli. Tapi kini sulit dijumpai. Biasanya jika bahan warnanya alami, kinclongnya juga bisa bertahan berabad-abad.
2.Bahan Warna Kimiawi, yakni zat warna kimia. Ada berbagai kualitas zat warna kimiawi ini. Semakin bagus makin bagus pula warnannya. Setiap pembatik menggunakan zat warna yang berbeda-beda. Maka wajar pula, jika harga Batik Lasem juga berbeda, meski sama jumlah warnanya.

Jenis Kain Batik Lasem

Batik Lasem ada yang halus, ada pula yang kasar. Selain kualitas cantingan motifnya, tingkat kehalusan Batik Tulis Lasem dipengaruhi oleh kualitas bahan kain yang digunakan untuk membatik.
Ada banyak jenis kain yang bisa digunakan untuk membuat Batik Lasem. Namun yang biasa digunakan adalah kain mori atau katun putih dan sutera, karena keduanya memiliki daya serap lilin dan warna paling bagus dibanding jenis kain lainnya.
A. Mori/Katun. Kain katun/ mori juga ada banyak jenisnya. Ada yang halus, ada pula yang kasar. Berdasarkan tingkat kehalusannya, mori/katun sering dibedakan menjadi 4 tingkatan, yakni:
1. Katun Primissima.
Primissima adalah mori/katun yang paling halus. Katun Primissima memiliki kepadapatan benang untuk lungsi antara 105-125 per inci atau 42-50/cm. Katun ini juga paling sedikit mengandung kanji, sehingga saat dicuci kanji mudah hilang. Harga Katun Primissima paling tinggi diantara jenis kain katun lainnya. Harga batiknya tentu juga lebih tinggi dibanding batik yang berbahan baku katun bukan primissima.
2. Katun Prima
Mori/Katun Prima sudah layak untuk bahan membatik, namun sering digunakan untuk batik-batik kelas dua, karena tingkat kehalusan katunnya di bawah Primissima. Katun Prima memiliki kepadatan benang untuk lungsi antara 85-105 per inci. Kandugan kanjinya kurang dari 10%.Mori Biru. Pembatik jarang sekali menggunakan
3. Mori Biru.
Mori biru kainnya kurang halus, sebab memiliki kepadatan benang untuk lungsi antara 65-85 per inchi.
4. Mori Blaco
(Grey). Mori Blaco adalah jenis kain putih yang paling kasar jika untuk membatik. Mori Blaco memiliki kepadatan benang untuk lungsi antara 64-68 per inci…(Next… B.Sutera…)

Lilin Batik Lasem

Proses kreatif membuat Batik Lasem tidak bisa lepas dari lilin batik. Peran lilin batik sangat vital karena menentukan kesempurnaan motif Batik Tulis Lasem. Lilin batik berfungsi untuk menutup bagian kain/motif yang dibuat agar tidak terkena cairan pewarna saat proses pewarnaan Batik Lasem.
Untuk itu, dibutuhkan lilin batik yang berkualitas agar detail ornamen motif Batik Lasem tidak lepas dan kabur. Ada banyak jenis lilin yang bisa digunakan untuk membuat lilin batik, diantaranya:
1.Malam / Lilin Tawon. Malam adalah lilin berwarna kuning suram yang mudah meleleh di suhu 59 derajat celcius. Lilin ini juga mudah melekat pada kain, serta memiliki ketahanan lama dan tidak berubah karena perubahan iklim. Meski demikian, Malam mudah lepas saat di-lorod. Malam biasanya dipakai untuk campuran lilin klowong.
2.Gondorukem. Gondorukem berasal dari getah pohon pinus yang disuling dan dipisahkan terpentin dan airnya. Gondorukem bersifat sangat mudah menembus kain dan titik lelehnya 80 deraja celcius. Saat kering sangat keras dan mudah patah. Gondorukem digunakan untuk campuran lilin batik agar menjadi cukup keras dan tidak cepat membeku, sehingga bentuk lilin pada motif Batik Lasem menjadi baik dan bekasnya bersih.
3.Damar (Damar Mata Kucing). Damar berasal dari sadapan pohon Shorea Spec (pohon damar). Damar sulit meleleh, cepat membeku, dan tahan terhadap larutan alkali. Damar digunakan untuk mencapur lilin batik untuk memperjelas bekas atau garis dan memperkuat melekat di kain.
4.Parafin. Parafin yang berwarna putih bersih atau kuning muda ini bersifat memiliki daya tidak tembus bawah, mudah cair, cepat membeku, mudah melekat tapi mudah lepas. Titik lelehnya 60 derajat celcius. Tahan terhadap lurutan alkali tetapi tidak tahan lama. Parafin digunakan sebagai campuran lilin batik agar menjadi jenis lilin yang memiliki daya tidak tembus bawah yang optimal, dan mudah lepas saat dilorod. Parafin sering digunakan juga sebagai bahan pengisi karena harganya relative murah dibanding lilin lain. Parafin cocok untuk campuran lilin pada udara basah dan musim penghujan. Biasanya dipakai untuk campuran lilin batik klowong dan tembokan, khususnya untuk Batik Lasem kasar.
5.Mikrowax. Mikrowax adalah lilin parafin yang bersifat halus, berwarna kuning muda. Kondisinya lemas seperti lilin kote (malam). Titik lelehnya 70 derajat celcius. Sulit mencair. Mudah lepas dalam rendaman air. Sulit menembus kain. Tahan terhadap larutan alkali. Mikrowax biasa digunakan sebagai campuran lilin batik sebagai lilin klowong dan lilin tembok untuk Batik Lasem berkualitas halus.
6.Kandal (Vet). Vet merupakan lemak binatang yang diambil dari daging sapi atau kerbau. Vet berwarna putih. Sifatnya mudah mencair titik lelehnya 50 derajat celcius. Vet digunakan sebagai campuran yang jumlahnya kecil dan berguna untuk menurunkan titik leleh agar lilin batik menjadi lemas dan mudah dilorod.a

Canting Batik Lasem

Canting menjadi salah satu penentu keindahan Batik Lasem atau Lasem Batik Art (LBA). Berkat canting, goresan, garis-garis, titik-titik menjelma menjadi motif-motif Batik Tulis Lasem yang indah.
Membatik harus menggunakan canting, karena alat ini berfungsi untuk menempelkan malam (lilin) pada kain. Canting terbuat dari tembaga tipis yang tebalnya kurang dari 0,5 mm.
Bentuknya dibuat agar mudah untuk mengambil dan menuangkan lilin panas. Bentuk mulut canting dibuat lonjong yang lebih sempit dari badannya. Lubang ujung canting berdiameter antara ¼ mm hingga 3 mm.
Canting Batik Lasem
Canting Batik Lasem
Berdasarkan kegunaannya ada beberap jenis canting, diantaranya:
1. Canting Klowong. Canting Klowong lubang ujungnya berdiameter 1 mm hingga 2 mm. Canting ini digunakan untuk membantik klowongan atau membantik yang tipis menggunakan lilin klowong.
2. Canting Tembokan. Canting Tembokan lubang ujungnya berdiameter 1 mm hingga 3 mm. Canting ini digunakan untuk membatik tembokan atau memperkuat lilin pada kain agar tidak mudah lepas oleh larutan asam. Namun untuk menembok permukaan yang luas sering digunakan kuas atau jegul.
3. Canting Cecek (Sawut). Canting Cecek atau Sawut ujungnya berdiameter ¼ mm hingga 1 mm. Canting digunakan untuk membuat titik/cecek dan garis-garis yang halus. Canting ini disebut canting cecek karena digunakan untuk membuat titik titik yang di dalam istilah batik disebut cecek. Canting ini disebut juga canting sawut karena digunakan untuk membuat garis-garis halus yang dalam istilah batik disebut sawutan atau sawut.
4. Canting Ceret. Canthing Ceret ujungnya berdiamter sekitar 1mm, digunakan untuk membuat garis ganda yang dikerjakan sekali jalan. Canting ini memiliki paruh ganda yang berjajar dua hingga empat menurut garis yang akan dibuat. Namun akhirnya, kunci dari nilai keindahan seni batik tetap pada sense of art pembatiknya. Semakin ahli mereka menggunakan canting, semakin indah pula motif batik yang tercipta.

Alat Membuat Batik Lasem

Membuat Batik Tulis Lasem pasti membutuhkan alat. Minimal empat alat berikut ini harus ada, sebab keberadaanya sangat vital dalam aktivitas membuat Batik Tulis Lasem.
Keempat alat membatik tulis Lasem adalah
1.Wajan.
Wajan terbuat dari besi cor dan tebal. Wajan ini sebagai wadah saat mendidihkan malam/lilin agar selalu dalam kondisi cair.
2.Kompor.
Kompor cocok untuk perapian/memanas malam/lilin , panasnya bisa diatur dengan dengan mudah sesuai kebutuhan.
3.Gawangan.
Alat untuk meletakan kain yang sedang dibatik.
4.Canting.
Canting berfungsi untuk menempelkan malam/lilin pada kain. Canting terbuat dari tembaga tipis yang tebalnya kurang dari 0,5 mm. Bentuknya dibuat sedemkian rupa sehingga mudah untuk mengambil dan menuangkan malam/lilin panas. Bentuk mulut canting dibuat lonjong yang lebih sempit dari bandannya. Lobang ujung canting berdiameter antara o,25mm hingga 3mm.

Cara Buat Batik Lasem

Pembuatan Batik Tulis Lasem prosesnya hampir sama dengan pembuatan batik tulis di daerah lain. Misalnya, untuk menghasilkan Batik Tulis Lasem Tiga Negeri, yakni Batik Tulis Lasem yang berwarna dominan: merah, biru, dan soga/coklat, berikut langkah-langkahnya:
1. Di ketel 7 hari.
2. Di komplongi, yakni dipukuli dengan menggunakan alat pemukul dari kayu.
Tahap no.1-2 adalah tahap untuk mempersiapkan kain agar hasil pembantikan lebih maksimal warnanya. Kami tetap melakukan tahap persiapan kain ini, meski sekarang banyak pembatik yang tidak melakukannya lagi karena alasan efisiensi waktu dan biaya.
3. Di pola
4.Di lengrengi.
5. Diberi isen-isen.
6. Di terusi.
7. Di tembok I dengan cairan lilin/wax (malam) untuk kelak berwarna putih.
8. Di wedel dengan warna biru muda .
9. Di celup warna merah .
10. Di tembok II pada warna merah .
11. Di celup dengan warna coklat/soga (nyoga).
12. Di tembok III pada warna coklat/soga.
13. Dicelup dengan warna biru (mbironi).
14. Di lorot, yakni direbus dengan air mendidih untuk menghilangkan lilin penutup.
15. Dicuci.
16. Dijemur.
17. Di kemplongi, yakni dipukuli dengan pemukul dari kayu.
18. Dikemas.
19. Dijual/pakai sendiri.
Produk akhir Batik Tulis Lasem menjadi bahan pakaian penting sehari-hari, kain panjang, sarung, selendang, tokwi, dll.

Nama Batik Lasem Berdasarkan Warna

Warna acap menjadi identitas batik. Batik Lasem pun sering diberi nama berdasarkan warna. Setidaknya ada enam nama popular yang mengaitkan dominasi dan kombinasi warna dengan identitas Batik Lasem.
Batik Lasem Empat Negeri
yakni Batik Lasem yang memiliki minimal 4 warna, khususnya kombinasi Merah + Biru/Hijau + Soga/Coklat + Ungu (violet).
Batik Lasem Tiga Negeri
yakni Batik Lasem yang memiliki 3 warna, khususnya kombinasi warna Merah + Biru/Hijau + Soga/Coklat.
Batik Lasem Esthe
yakni Batik Lasem berwarna kombinasi Biru/Hijau + Soga/Coklat.
Batik Lasem Biron
yakni Batik Lasem berwarna kombinasi dominan biru.
Batik Lasem Bang Bangan
yakni Batik Lasem berwarna dominan merah.
Batik Lasem Bang Biron
yakni Batik Lasem berwarna dominan merah dan biru.

Motif Batik Lasem dan Warnanya

Motif Batik Lasem secara umum hanya ada dua motif, yakni motif Cina dan non Cina.
Batik Lasem Motif Non Cina, yakni Batik Tulis Lasem yang motif-motifnya tidak dipengaruhi oleh budaya Cina. Motif Batik Lasem ini didominasi motif batik Jawa, diantaranya: Sekar Jagad, Kendoro Kendiri, Grinsing, Kricak/Watu Pecah, Pasiran, Lunglungan, Gunung Ringgit, Pring-pringan, Pasiran Kawung, Kawung Mlathi, Endok Walang, Bledak Mataraman, Bledak Cabe, Kawung Babagan, Parang Rusak, Parang Tritis, Latohan, Ukel, Alge, Ceplok Piring, Ceplok Benik, Sekar Srengsengan, Kembang Kamboja, dan Sido Mukti.
Batik Lasem Motif Cina, yakni Batik Tulis Lasem yang motifnya dipengaruhi budaya China, bahkan unsur orientalnya sangat kental dan dominatif, diantaranya:
1.Motif Fauna Cina plus non Cina.
Contoh motif fauna Cina : motif burung hong (phoenix) yang dikenal sebagai Lok Can, naga (liong), kilin, ayam hutan, ikan emas, kijang, kelelawar, kupu-kupu, kura-kura, ular, udang, kepeting, dsb. Motif fauna Cina ini berkolaborasi dengan motif batik Jawa, seperti parang, udan riris, kawung, kendoro kendiri, sekar jagad, anggur-angguran, dsb.
2.Motif Flora Cina plus motif non Cina
Motif flora Cina misalnya bunga seruni (chrysanthemum), peoni, magnolia, sakura (cherry blossom), bamboo, dsb. Motif flora Cina ini juga sering bersimbiosis mutualisme dengan motif batik Jawa.
3.Motif lain bergaya Cina selain flora dan fauna plus motif batik non Cina.
Contoh motif lain( non flora fauna Cina) adalah kipas, banji, delapan dewa (pat sian), dewa bulan, koin uang (uang kepeng).
4. Motif kombinasi Cina plus motif batik non Cina
Maksud kombinasi motif disini adalah dalam satu Batik Lasem keeleganan motif fauna dan flora Cina berbaur dengan keindahan motif-motif batik Jawa.
Adanya keempat jenis kategori motif Batik Lasem tersebut, memberikan kebebasan kepada para pembatik Lasem dalam berkreasi. Mereka tidak terpaku pada pola motif baku (pakem). Yang terpenting, improvisasi dan kreativitas pembatik Lasem selalu tertantang untuk membuat batik yang bermotif unik dan khas, sehingga bernilai artistik estetik yang tinggi.
Motif Laseman
Kesemua jenis motif tersebut, motif non Cina dan Cina, disebut motif Laseman. Selama ini motif Cina-lah yang dikenal sebagai motif Laseman. Namun berdasarkan pertimbangan sosiologis historis berupa interaksi budaya lintas Cina Jawa di Lasem, diusulkan motif non Cina juga dapat dipromosikan bersama motif Cina yang sudah ada sebagai motif Batik Laseman.
Motif Laseman memiliki pengaruh sangat kuat pada batik Indramayu, Jambi, Palembang, pekalongan, Solo,dan Yogyakarta. Seperti halnya pengaruh motif batik dari berbagai daerah tersebut dalam perkembangan dinamika motif dalam batik Lasem. Sebagai contoh, konon seni batik Indramayu diperkenalkan oleh para pengrajin batik dari Lasem.

Sejarah Keberadaan Batik

Sejarah mencatat, batik sudah ada sejak zaman nenek moyang yang hidup di abad XVII. Saat itu batik ditulis dan dilukis pada daun lontar. Ornamen motif batik masih sederhana, berupa bentuk binatang dan tanaman.
Batik pun mengalami perkembangan. Ornamen motif batik yang semula hanya corak-corak lukisan binatang dan tanaman, berkembang menjadi motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya.
Perkembangan batik terus berlanjut, hingga terjadilah penggabungan kreasi corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian. Akhirnya, muncullah seni batik tulis dengan keindahan ornament motif seperti yang kita kenal saat ini.
Jenis, corak, serta ornament motif batik tradisional sangat banyak jumlahnya. Kesemua variasi ornament motif batik tradisional tersebut selalu berkaitan erat dengan filosofi dan budaya daerah asal batik tersebut dibuat. Jadi wajar, jika kini banyak batik tradisional yang ornament motifnya memiliki ciri khusus sesuai khasanah budaya daerah masing-masing.
Perkembangan Batik di Indonesia
Perkembang batik di Indonesia tertoreh jelas dalam sejarah di era perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan berikutnya. Dalam beberapa catatan sejarah, kegiatan pengembangan batik banyak dilakukan pada era Kerajaan Mataram, disusul era kerajaan Solo dan Yogyakarta.
Kala itu, batik menjadi bagian kebudayaan keluarga raja-raja di nusantara. Batik yang merupakan kesenian gambar di atas kain, pembuatannya hanya dikerjakan di dalam keraton. Batik hanya digunakan untuk pakaian raja dan keluarga, serta para pengikutnya.
Namun karena banyak pengikut raja yang tinggal di luar keraton, maka batik pun merambat ke luar benteng istana. Saat banyak pengikut raja membawa pulang batik, masyarakat pun bersentuhan langsung dengan keindahan batik. Terutama, saat para pengikut raja ini membuat batik di tempatnya masing-masing.
Terdorong rasa suka dan keinginan untuk menggunakan pakaian batik, masyarakat pun ikut membuat batik. Berawal dilakukan oleh rakyat terdekat keraton. Namun kesukaan terhadap batik tidak bisa dibendung lagi. Kegiatan membatik kian meluas, hingga menjadi pekerjaan kaum wanita di dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang.
Esklusivitas batik pun pecah. Batik yang awalnya hanya untuk pakaian keluarga istana, berubah menjadi pakaian rakyat. Masyarakat luas, pria dan wanita semakin menggemari batik.
Bahan kain putih yang dipergunakan pun hasil tenunan sendiri. Mereka juga membuat sendiri bahan-bahan pewarna yang digunakan untuk membatik. Bahan pewarna dibuat dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia, diantaranya berasal dari pohon mengkudu, tinggi, soga, dan nila. Sedangkan bahan sodanya dibuat dari soda abu, dan garamnya dibuat dari tanah lumpur.
Seberkas catatan sejarah tersebut mempertegas, bahwa kerajinan batik di Indonesia sudah dikenal sejak era kerajaan Majapahit, kemudian terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Sejak akhir abad abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX, kesenian batik mulai menjadi milik rakyat Indonesia, khususnya suku Jawa.
Kala itu batik yang dihasilkan hanya batik tulis. Tidak ada makna batik selain batik tulis. Kejayaan batik tulis ini hanya bertahan hingga awal abad ke-XX. Batik cap muncul memecah dominasi batik tulis. Seusai perang dunia I tahun 1920, masyarakat mulai mengenal batik cap. Faktor mudah dan murah menjadi mudahnya batik cap diterima masyarakat.
Meski demikian, efisiensi batik cap ternyata tidak pernah mampu mematikan batik tulis. Eksistensi batik tulis masih tetap terjaga hingga kini, bahkan terus berkembang mengkuti dinamikan perkembangan kebudayaan.
Batik kini menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia. Sejak Jumat tanggal 2 Oktober 2009, organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu, Budaya atau UNESCO (Educational Scientific and Cultural Organisation), menetapkan batik sebagai Warisan Budaya Tak Benda milik Indonesia. Setiap tanggal 2 Oktober pun dijadikan sebagai Hari Batik.

Batik Lasem Warna Alam

Warna merupakan roh keindahan Batik Lasem. Selain ornamen motif, variasi dinamis warna menjadi azimat pemikat pecinta Batik Lasem. Oleh karenanya, mahir meracik bahan pewarna menjadi keharusan bagi pengerajin Batik Lasem.
Ada dua jenis bahan warna pewarna yang digunakan oleh pengerajin Batik Lasem, yakni bahan pewarna alam dan sintetis. Bahan pewarna alam adalah bahan pewarna alami yang dibuat dari binatang dan tumbuh-tumbuhan. Pewarna alami dari binatang biasanya diambil dari getah buang binatang.
Namun, pengerajin Batik Lasem jarang sekali menggunakan warna alami dari binatang. Pengerajin Batik Lasem lebih menyukai bahan pewarna alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Ada banyak jenis tumbuhan yang sering digunakan sebagai bahan pewarna alami, diantaranya:
Tanaman indigo, dari daunnya menghasilkan warna biru.
Pohon soga, dari kulitnya menghasilkan warna coklat kekuning-kuningan hingga coklat kemerah-merahan.
Tanaman tenggeran, dari kayunya menghasilkan warna kuning.
Tanaman jambal, dari kulit pohonnya menghasilkan warna merah sawo.
Tanaman secang, dari kulit pohonnya menghasilkan warna merah.
Bahan pewarna alami memang menghasilkan warna Batik Lasem yang unik dan cantik. Namun karena proses pembuatannya rumit dan tidak efisien, pengerajin Batik Lasem kini jarang sekali menggunakan bahan pewarna alami. Kalaupun ada, pasti untuk Batik Lasem yang super exclusive, Batik Lasem special yang jarang ada di pasaran.
Meski demikian, romantisme Batik Lasem warna alami bisa dinikmati dengan mengoleksi batik lawas yang pewarnaannya menggunakan bahan alami.
Dulu, pengerajin Batik Lasem banyak yang menggunakan pewarna alami untuk memperindah motif dan ornamen Batik Lasem. Sisa keemasan mereka pasti ada. Ini artinya, Batik Lasem lawas warna alami masih bisa ditemukan.
Tentu saja tidak mudah mendapatkannya, karena Batik Lasem lawas warna alami sudah menjadi barang langka. So, mari berburu Batik Lasem klasik warna alam. Dan berbahagialah bagi yang sudah mendapatkannya.

Definisi Batik

Batik adalah kain bercorak. Definisi ini mendominasi persepsi masyarakat tentang batik. Setiap kain bercorak selalu bermakna batik. Persepsi ini tentu saja selalu memicu polemik, karena ada yang kukuh berpendapat, bahwa tidak setiap kain bercorak bisa disebut batik.
Lalu, apa sebenarnya definisi batik? Istilah batik berasal dari rangkaian dua kata bahasa Jawa yaitu amba dan tik. Amba berarti menulis. Tik berarti titik. Dari rangkaian dua kata Jawa tersebut, ada yang memaknai Batik sebagai ngembat titik atau rambating titik, yang berarti rangkaian titik-titik. Batik berarti menitikan malam dengan canting sehingga membentuk corak yang terdiri atas susunan titik dan garis.
Puspa LBA 18: Batik Tulis Lasem Sekar Esthe.
Lebih teknis lagi, batik merupakan hasil peng- gambaran corak di atas kain dengan menggunakan canting sebagai alat gambar dan malam sebagai zat perintang.
Berarti Teknik Batik merupakan penerapan corak di atas kain melalui proses celup rintang warna dengan malam sebagai medium perintangnya.
Konvensi Batik Internasional di Yogyakarta pada tahun 1997 menyepakati, definisi batik secara umum adalah proses penulisan gambar atau ragam hias pada media apapun dengan menggunakan lilin batik (wax) sebagai alat perintang warna. Bilamana prosesnya tanpa menggunakan lilin batik maka tidak bisa dinamakan batik, dan dikatakan tekstil bermotif batik.
Namun yang pasti, Batik berkaitan erat dengan pekerjaan halus, lembut, dan kecil serta mengandung unsur keindahan. Jadi, Batik adalah karya seni lukis yang ditorehkan pada kain mori dan sejenisnya, dengan mengunakan canting dan malam atau lilin sebagai alat lukisnya dan sekaligus berfungsi untuk penghalang motif dan warna yang diinginkan.

Batik Lasem Kawung

Batik Lasem Kawung sering menggiring imaginasi pada keindahan stailisasi koin-koin keberuntungan. Namun imaginasi itu membuyar seiring kehadiran Batik Lasem Kawung dengan keindahan stailisasi ornamen yang jauh dari dominasi kepingan koin.
Batik Lasem Kawung ternyata tidak selalu menampilkan ornamen koin, lingkaran maupun elips. Sering dijumpai Batik Lasem Kawung Jembrak dan Kawung Kitiran yang ornamen utamanya tidak didominasi koin, lingkaran, ataupun elips, tetapi justru mengeksplorasi stailisasi ornamen segitiga dan segiempat.
Apapun latar belakangnya, eksistensi Batik Lasem Kawung Jembrak dan Kitiran bisa jadi akibat dari pengaruh kulturisasi tradisi pesisiran sekaligus budaya Cina. Kekuatan blured culture (Jawa Pesisran+Cina) ini mampu meminimalisasi dominasi budaya Keraton Mataram (Jogyakarta+Surakarta) sebagai basic areal dibuatnya motif Batik Kawung.
Namun tidak bisa dipungkiri, basic ornament utama Batik Lasem Kawung adalah stailisasi benda berbentuk lingkaran /elips/koin. Wajar jika akhirnya banyak Batik Lasem Kawung ornamen motif utamanya menyerupai ragam motif Batik Kawung Mataraman hasil stailisasi dari koin uang pecahan seperti Batik Kawung Picis, Batik Kawung Bribil, dan Batik Kawung Sen.
Ada juga Batik Kawung Beton hasil dari stailisasi biji nangka. Bahkan, ada juga yang Batik Lasem Kawung Mata Satu dan Kawung Mata Dua, karena di dalam lingkaran ada noktah mirip mata.
Dari perpektif historis, motif batik kawung awalnya hasil dari stailisasi kolang kaling atau buah aren, yang bentuk dasarnya dibuat empat lingkaran oval. Posisi empat lingkaran elips tersebut sengaja diatur menyentuh satu dengan yang lain secara semetris, sehingga menimbulkan ilusi optic berupa bunga empat kelopak.
Pembuatan Batik Kawung bukan tanpa tujuan dan makna. Batik yang awalnya hanya dipakai keluarga Raja Mataram ini sarat makna filosofis kehidupan.
Secara umum makna filosofis Batik Kawung berawal dari buah sebagai simbolisasi harapan dan kesuburan. Lalu, aren sebagai penghasil gula bermakna keagungan dan kebijaksanaan. Pohon aren yang lurus tanpa cabang melambangkan keadilan. Jadi, silmbolisasi flora aren dalam Batik Kawung bermakna filosofis tentang harapan terwujudnya kekuasaan yang adil dan bijaksana.
Sedangkan empat unsur bunga kawung yang saling beririsan secara semetris dengan menyisakan ruang kosong dtiitik pusat, disebut kiblat 4 lima pancer. Falsafah adiluhung Jawa ini bermakna memandang dari 4 perspektif mata angin guna mendapatkan cahaya (pancer) kebijaksanaan.
Secara holistic, Batik Kawung bermakna filosofis tentang kesucian penciptaan manusia, yakni perjalanan panjang kehidupan manusia menuju alam sawung, yakni alam nan kekal dan abadi.

Batik Lasem Beras Utah

Batik Lasem Beras Utah adalah Batik Tulis Lasem bermotif stailisasi ornament beras tumpah yang tercecer. Ornamen beras berserakan ini biasanya diharmonisasikan dengan isen-isen aneka flora.
Berikut contoh Batik Lasem Beras Utah:
Batik Lasem Beras Utah ini klasik dan lawas, diperkirakan dibuat 40 tahun yang lalu.
Warna jelas, tidak kusam. Biru soga hitam berpadu indah memancarkan keteduhan, menenteramkan hati.
Kondisi kain bagus dan kuat, meski sudah berusia puluhan tahun. Tidak ada lobang dan tisikan, menjadi bukti batik klasik ini sangat terawat.
Cantingan batiknya unik. Detail motif jelas. Pertanda Batik Lasem ini dikerjakan dengan penuh kesungguhan hati.
Tidak hanya sarat kemahiran teknis, ornamen beras tercecer juga penuh makna filosofis. Beras adalah asa dan solusi.
Beras adalah asa, karena keberadaannya selalu memberi harapan. Ketentraman dan kemakmuran menjadi garansi yang tidak pernah bisa diingkari.
Beras adalah solusi, karena eksistensinya menentukan fluktuasi emosi. Saat beras berlimpah, kebahagian memuncah. Saat sulit didapat, beras memicu revolusi. Sejarah mencatat, beras selalu menjadi poros rotasi kekuasaan negeri ini.

Batik Lasem Naga Merah Sang Kyai

Batik Lasem Naga Merah (Red Dragon) menjiwa dalam kharisma Kyai Haji Musthofa Bisri asal Rembang, Jawa Tengah. Dua Naga Merah meliuk di kedua lengan. Satu Naga Merah besar memback up dari balik punggung. Ketiga Naga Merah ini seakan turut memperdalam makna setiap kata yang terlontar dari Sang Kyai.
Eleganitas Batik Lasem Naga Merah ini muncul saat kyai yang akrab disapa Gus Mus ini tampil di acara Kick Andy yang disiarkan Metro TV pada Jum’at malam, 7 Oktober 2011.
Saat itu Gus Mus mengenakan kemeja lengan panjang Batik Lasem Naga Merah berwarna dasar hitam dengan isen-isen bunga melati putih. Ada tiga ornament Naga Merah. Dua Naga Merah kecil dan satu Naga Merah besar.
Mengamati tampilan kemeja Batik Lasem Naga Merah Gus Mus, tampak dua ornament Naga Merah kecil diposisikan di dua lengan panjangnya. Satu ornament Naga Merah besar diposisikan disisi belakang baju, tepatnya dipunggung.
Eksistensi motif Naga Merah dalam disain kemeja Sang Kyai tersebut sekilas menjadi tidak terlalu dominatif. Fokus perhatian tersapu pada bunga-bunga melati putih. Naga merah seakan hanya berposisi sebagai pelengkap, yakni sebagai isen-isen Batik Lasem.
Namun persepsi ini sontak berubah kala kedua lengan Gus Mus bergerak. Setiap tangan Gus Mus bergerak, tampak jelas ada Naga Merah bergerak meliuk. Gerakan lengan Gus Mus memicu aksi dinamis hewan mitologi ini, sehingga tak henti-hentinya memancarkan aura eleganitas dan kegagahan

Batik Lasem Parang

Batik Lasem Parang memang fenomenal. Eksistensi Batik Lasem Parang tidak tergeser oleh gelora dinamis Batik Lasem kontemporer. Batik Lasem Parang selalu menjiwa di dalam hati pecinta batik, sehingga menjadi batik klasik nan abadi.
Batik Lasem Parang kebanyakan termasuk Batik Lasem Lerek, karena motif parangnya berstruktur lerek. Wajar akhirnya jika Batik Lasem Parang lumrah dan akrab disebut juga Batik Lasem Lerek.
Batik Lasem Parang sesungguhnya Batik Lasem bermotif stailisasi lilitan leter S yang saling menjalin membentuk garis diagonal dengan kemiringan 45 derajat. Parang berasal dari kata pereng, yang berarti lereng. Perengan menggambarkan sebuah garis menurun dari tinggi ke rendah secara diagonal.
Susunan motif leter S yang saling menjalin tidak terputus mengambarkan kesinambungan. Bentuk dasar leter S diambil dari ombak samudera yang mengambarkan semangat yang tidak pernah padam.
Sementara garis lurus diagonal melambangkan rasa hormat dan keteladanan, serta kesetiaan pada nilai-nilai kebenaran.
Makna filosofis Batik Lasem Parang sangat subtansial, yakni petuah agar tidak berputus asa, tidak pernah berhenti dalam memperbaiki diri, memperjuangkan kesejahteraan, dan memperukun pertalian keluarga.
Layaknya ombak laut yang selalu terjalin bergerak dinamis, Batik Lasem Parang motivasi kita agar selalu berupaya dan bertindak dengan penuh kecekatan, kesigapan, dan kesinambungan, hingga tercapai tujuan yang berprinsip pada nilai-nilai kebenaran.
Diposkan oleh Batik Lasem

Batik Lasem Sekar Jagad

Batik Lasem nyaris tidak bisa lepas dari ornamen sekar, bunga, puspa, atau kembang. Stailisasi ornamen sekar melati, mawar, srengenge, dan aneka bunga lainnya, selalu menjadi bagian dari keindahan motif Batik Tulis Lasem.
So, wajar jika sekar selalu ada dan berkolaborasi dengan stailisasi ornamen flora, fauna dan benda lain di setiap motif Batik Lasem.
Keberadaan sekar terkadang memang hanya sebagai pelengkap, karena perannya diposisikan sebagai isen-isen untuk mengharmonisasi kemolekan motif Batik Lasem.
Namun acap kali keberadaan sekar begitu dominatif. Dominasi sekar dalam Batik Lasem ini familiar disebut motif Sekar Jagad.
Batik Lasem Sekar Jagad termasuk salah satu motif batik klasik yang abadi. Popularitas Batik Lasem Sekar Jagad sangat mengakar di hati pecinta batik, sehingga eksistensinya tidak pernah bisa tergeser oleh gelombang invasi batik kontemporer.
Batik Lasem Sekar Jagad tentu saja mengandung makna. Nama Sekar Jagad selalu berkonotasi pada taman alam yang indah dan harum semerbak aroma aneka macam bunga. Sehingga lumrah, jika muncul kesimpulan motif Sekar Jagad bermakna kecantikan dan keindahan yang mempesona.
Motif Sekar Jagad juga bersifat simbolis filosofis. Berasal dari bahasa Jawa kar yang berarti peta dan jagad bermakna dunia, Sekar Jagad sering diasosiasikan sebagai simbolisasi keanekaragaman di seluruh dunia.
Meski selalu memicu multi intepretasi, saya sepaham jika Batik Lasem Sekar Jagad bermakna keanekaragaman yang memperindah dunia. Dalam arti, keindahan keanekaragaman yang menciptakan tata kelola dunia yang aman dan damai.

Batik Lasem Satu Warna

Batik Lasem Satu Warna. Sederhana tetap mempesona. Warna merah, biru, ungu, coklat, pink, hitam, ataupun hijau memperindah motif Batik Tulis Lasem, seperti sekar jagad, sekar melati, kawung, krecak dan latohan.
Batik Lasem satu warna berbahan mori prima, yakni katun yang memiliki kepadatan benang untuk lungsi antara 85-105 per inci. Kandungan kanji dalam katun prima kurang dari 10%. Tingkat kehalusan katun prima selevel di bawah katun primissima.
Meski demikian, Batik Lasem satu warna sudah layak dijadikan busana batik. Warna dan motif sederhananya elegan sedap dipandang mata. Kehalusannya nyaman saat dipakai. So jangan ragu, yuk gunakan busana batik Lasem satu warna.

Selendang Batik Lasem

Selendang Batik Lasem selalu ada dalam eksistensi Batik Tulis Lasem. Keberadaan selendang Batik Lasem seiring sejalan dengan kain panjang Batik Lasem. Keduanya berpasangan berkolaborasi memaksimalkan keindahan Batik Lasem.
Meski demikian, selendang Batik Lasem acap pula memberikan keindahan secara mandiri. Kehadiran selendang Batik Lasem tidak selalu bersamaan dengan kain panjang Batik Lasem. Selendang mampu menjadi varian tunggal yang memperkaya ragam jenis Batik Lasem.
Ada banyak jenis selendang Batik Lasem, diantaranya syal, sampur, dan gendongan. Syal Batik Lasem adalah selendang batik lasem yang memiliki ukuran relative kecil. Syal biasanya digunakan menutup leher dan memperindahan sekitar pundak.
Sampur Batik Lasem adalah selendang Batik Lasem berukuran sedang. Biasanya berukuran sekitar 230 x 50 cm. Sampur Batik Lasem biasanya digunakan untuk menari dan asesoris kebaya.
Namun sampur Batik Lasem dengan jenis kain yang lebih kuat  juga digunakan untuk mengendong benda-benda yang tidak terlalu berat. Selendang Batik Lasem jenis ini juga sering digunakan untuk menutup kepala.
Gendongan Batik Lasem adalah selendang besar Batik Lasem, berkuran sekitar 250 x 90 cm. Biasanya jenis kainnya kuat. Selendang gendong Batik Lasem ini digunakan untuk membawa /menggendong barang yang relatif besar dan berat.
Dalam tradisi masyarakat Rembang, khsusnya Lasem, Jawa Tengah, selendang gendong Batik Lasem digunakan untuk menggendong bayi/anak. Maka, setiap ada upacara kelahiran bayi, selalu ada yang memberikan kado berisi selendang gendong Batik Lasem.

Batik Lasem Bledak

Batik Lasem Bledak memiliki daya pikat, meski tampilannya terkesan sederhana. Motif tidak terlalu rumit, warna pun tergolong minimalis untuk ukuran Batik Tulis Lasem.
Banyak pecinta Batik Lasem yang menginginkan Batik Lasem Bledak, meski sering kali mereka belum paham maksud dari Batik Lasem Bledak. Mereka hanya menginginkan Batik Lasem berlatar warna terang dan cerah. Lalu saya menunjukan Batik Lasem yang dimaksud, dan ternyata batik tersebut adalah Batik Lasem Bledak.
Batik Lasem Bledak adalah Batik Lasem berlatar warna putih atau krem. Proses pembuatan Batik Lasem Bledak membutuhkan cukup banyak malam /lilin batik untuk menutup bidang yang dijadikan latar.
Penembokan calon latar batik ini harus menggunakan malam yang bagus, sehingga tidak bocor saat pewarnaan ornamen motif.
Ornamen motif Batik Lasem Bledak memang terkesan sederhana. Warnanya pun acap dengan satu kelir. Namun dibutuhkan kehati-hatian dan kejelian dalam pengerjaan agar menghasilkan Batik Lasem Bledak yang sempurna. Detail motif dan kebersihan latar batik menjadi kunci keindahan Batik Lasem Bledak.
Ada banyak Batik Lasem Bledak yang popular, diantaranya Batik Lasem Bledak Lok Can, Batik Lasem Bledak Mataram, Batik Lasem Bledak Cabe, Batik Lasem Bledak Kupu kupu, Batik Lasem Bledak Delapan Dewa, Batik Lasem Bledak Sekar, dan sebagainya.

Batik Lasem Cina

Batik Lasem Cina menjadi bukti nyata pembauran budaya Jawa dan Cina di Rembang, khususnya Lasem, Jawa Tengah. Batik Lasem Cina yang sering juga disebut Batik Lasem Oriental ini mensinergikan sense of art masyarakat Jawa dan Cina. Mereka berpadu mengkreasi stailisasi ornamen Cina dan Jawas hingga menjadi motif-motif Batik Lasem Cina nan indah.
Batik Lasem Cina tentu saja adalah Batik Lasem yang orenamen motifnya sangat dipengaruhi budaya Cina. Unsur orientalnya dominatif, meski motifnya selalu berkolaborasi dengan ornamen motif Batik Jawa,
Unsur oriental Batik Lasem Cina ini biasanya berupa motif fauna Cina yang diharmonisasikan dengan motif batik non Cina, khususnya Batik Jawa. Motif fauna Cina yang paling popular adalah motif burung hong (phoenix), naga, kura kura,, kilin, ikan emas, kijang, ayam jantan, kelelawar, udang, ular, kepeting, dsb.
Motif fauna Cina tersebut biasanya dikolaborasikan dalam motif Batik Jawa, seperti sekar jagad, parang, udan riris, kendoro kendiri, kawung, latohan, anggur-angguran.
Batik Lasem Lok Can adalah salah satu contoh motif Batik Lasem Cina yang sangat familiar dikalangan masyarakat pecinta Batik Lasem. Batik Lasem Lok Can adalah Batik Lasem bermotif stailisasi ornamen burung hong (phoenix) yang diselaraskan dengan stailisasi ornamen flora dan fauna lokal.
Tidak hanya motif fauna Cina, motif flora Cina pun menjadi unsur penting dalam Batik Lasem Cina. Stailisasi flora Cina seperti bunga seruni (chrysanthemum), peoni, magnolia, sakura (cheerry blossom), dan bamboo acap bersimbiosis mutualisme dengan motif Batik Jawa.
Ada juga motif selain flora dan fauna Cina yang berpadu dengan motif Batik Jawa, misalnya motif ornamen kipas, banji, koin uang (uang kepeng), delapan dewa (pat sian), dan dewa bulan.
Kesemua motif Cina tersebut juga sering menyatu dalam motif Batik Jawa. Kombinasi motif Cina dalam motif Batik Jawa ini, kini diperkuat dengan seni sinografi, yakni seni menulis indah huruf Cina /Mandarin.
Selain mengandalkan harmonisasi motif flora fauna Cina dan sekar jagad, Batik Lasem Cina juga mengedepankan pepatah atau kata mutiara Tionghoa dalam stailisasi huruf Cina.
So, wajar akhirnya, jika visi misi filosofis Batik Lasem ini menjadi lebih tegas, karena tidak hanya bermain dalam ranah simbolisasi, tetapi juga visualisasi pesan yang lugas dan transparan.

Batik Lasem Pagi Sore

Batik Lasem Pagi Sore adalah Batik Lasem yang memiliki dua motif dalam selembar batik. Saya terkadang menyebutnya Batik Lasem Two Face, karena satu wajah Batik Lasem terdapat dua motif dominan, misalnya Batik Lasem Pagi Sore Parang Kawung Tiga Negeri.
Dalam selembar Batik Lasem Pagi Sore Parang Kawung Tiga Negeri, kita bisa menikmati keindahan Batik Lasem Parang sekaligus Batik Lasem Kawung, meski porsinya masing-masing hanya setengah batik.
Saat menggunakan Batik Lasem Pagi Sore ini kita bisa tampil dalam dua gaya di suasana berbeda, meski hanya memiliki satu batik. Pagi tampil dengan Batik Lasem Kawung. Sorenya bisa bergaya penuh wibawa dengan Batik Lasem Parang. Efisien fashion..!
Sejarah munculnya Batik Lasem Pagi Sore, sering juga disebut Batik Lasem Esuk Sore, memang ada korelasi erat dengan efisiensi budget. Batik Lasem Pagi Sore konon sengaja dibuat saat masyarakat terlilit krisis ekonomi. Pakaian menjadi barang yang mahal, sehingga sangat sulit untuk memiliki dalam jumlah yang cukup.
Menyikapi keterbatasan daya beli masyarakat tersebut, pembatik Lasem membuat batik pagi sore atau istilah sekarangnya batik two in one. Maksudnya, batik satu bisa digunakan dua hari atau lebih dengan kesan berganti-ganti kain batik karena berbeda motif.
Namun dalam perkembangannya, motif Batik Lasem Pagi Sore selalu dibuat meski daya beli masyarakat sudah jauh membaik. Batik Lasem Pagi Sore eksis bukan lagi karena terdesak faktor ekonomi, tetapi karena alasan sense of art.
Eksistensi Batik Lasem Pagi Sore kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keanekaragaman motif Batik Lasem. Stailisasi ornamen motif Batik Lasem Pagi Sore semakin variatif, meski tidak pernah mampu menanggalkan motif-motif batik klasik. Batik Lasem Pagi Sore, motif kontemporer dan klasik, berhasil memperindah keindahan Batik Tulis Lasem.

Batik Lasem Tiga Negeri

Batik Lasem Tiga Negeri terkenal indah. Aura artistiknya menghipnotis pecinta batik nusantara. Wajar, jika Batik Lasem Tiga Negeri, terutama batik klasik lawas, selalu diburu banyak kolektor, karena bisa menjadi instrument investasi yang menggiurkan.
Batik Lasem Tiga Negeri adalah nama popular Batik Lasem yang memiliki minimal tiga warna, yakni merah, biru, dan soga (coklat). Apapun motif Batik Lasem, jika memiliki kombinasi tiga warna tersebut bisa dinamakan Batik Lasem Tiga Negeri.
So, jangan heran jika menjumpai banyak motif Batik Lasem Tiga Negeri, misalnya Batik Lasem Pasiran Ukel Tiga Negeri, Gringsing Tiga Negeri, Gunung Ringgit Tiga Negeri, Parang Tiga Negeri, Kawung Tiga Negeri, Udan Riris Tiga Negeri, dan Sekar Jagad Tiga Negeri.
Namun dari sekian banyak motif Batik Lasem Tiga Negeri , Batik Lasem Sekar Jagad Tiga Negeri memiliki sejarah tersendiri. Di zaman Belanda, Batik Lasem Sekar Jagad Tiga Negeri popular dengan sebutan Batik van Chellem.
Saat itu banyak pembatik Lasem yang menggunakan label Batik van Chellem, karena nama ini menjadi garansi keaslian dan kualitas Batik Tulis Lasem Sekar Jagad Tiga Negeri.
Kami masih sempat menemukan beberapa Batik Lasem berlabel Batik Van Chellem yang dibuat sekitar tahun 1981. Batik van Chellem ini sekarang menjadi salah satu koleksi www.lasembatikart.com .
Kini hampir tidak ada lagi pembatik Lasem yang menggunakan label Batik van Chellem untuk Batik Lasem Tiga Negeri. Mungkin karena kebanyakan pecinta Batik Lasem sudah paham mengenai Batik Tiga Negeri.
Minimal mereka sudah tahu, bahwa asal mula nama Batik Tiga Negeri berawal dari proses pewarnaan yang dibuat di tiga negeri (daerah), yakni merah dicelup di Lasem, biru dicelup di Pekalongan, dan soga /coklat di celup di Surakarta.
Bisa dibayangkan, kala itu membuat Batik Lasem Tiga Negeri begitu rumit, membutuhkan waktu lama, dan pastinya juga memerlukan biaya mahal.
Kini membuat Batik Lasem Tiga Negeri bisa dilakukan dengan cara jauh lebih mudah, karena pewarnaannya tidak perlu lagi dibuat di tiga daerah. Jangankan warna merah, biru, dan coklat, pewarna apapun bisa mudah didapat, karena zat warna sintetis banyak tersedia di pasar. Kita tinggal membeli dan menggunakannya sesuai kebutuhan untuk mewarnai ornament motif Batik Lasem Tiga Negeri.
Masalahnya, apakah keindahan Batik Lasem Tiga Negeri hasil kreasi sekarang bisa lebih artistik dibanding Batik Lasem Tiga Negeri klasik lawas? Pertanyaan ini tentu menjadi tantangan bagi pembatik era sekarang untuk berkarya lebih kreatif lagi hingga menghasilkan Batik Lasem Tiga Negeri yang bernilai seni tinggi.

Kemeja Batik Lasem

Kemeja Batik Lasem adalah baju atau hem yang dibuat dengan bahan Batik Tulis Lasem. Aneka motif Batik Lasem, seperti Batik Lasem Sekar Jagad, Gunung Ringgit, Kawung, Parang, dan lainnya, menjiwa dalam pesona busana penuh nuansa etnis nan artistik.
Motif kemeja batik Lasem juga sarat dengan makna filosofis yang acap diyakini mampu memancarkan aura positif. Banyak pengguna kemeja Batik Lasem sengaja memilih motif tertentu, misalnya Batik Lasem motif Lok Can, Naga, dan 8 Dewa, disesuaikan dengan acara istimewa /special moment yang akan dihadiri, sehingga mendapatkan aura seperti yang dikehendaki, misalnya tampak semakin cantik, gagah, berwibawa, dan berpengaruh.
Kemeja Batik Lasem biasa hadir dalam aneka disain. Ada yang berlengan pendek. Ada yang berlengan panjang. Berkantong /saku satu atau dua, diatas atau di bawah. Berkrah maupun oblong. Intinya, ada aneka disain kemeja Batik Lasem yang disesuai dengan tujuan, untuk acara formal atau non formal.
Ukuran kemeja Batik Lasem bisa S (small/kecil), M (medium/ sedang), (large/ besar), XL ( extra large/ lebih besar), bahkan ada size yang lebih besar lagi. Pastikan ukuran badan sebelum membeli kemaja Batik Lasem. Pilihlah size yang tepat dan pas di badan untuk mendapatkan kenyamanan maksimal saat mengenakan kemeja Batik Lasem.
Last but not least, faktor selera pasti tidak bisa diabaikan. Kecocokan selera menjadi subtansi kenyamanan, sehingga bisa lebih percaya diri saat berbusana kemeja Batik Lasem.

Harga Batik Tulis Lasem

Murah bukan berarti murahan..! Kalimat ini sering menjadi azimat dalam memasarkan produk, termasuk memasarkan Batik Tulis Lasem.
Banyak konsumen terbujuk rayuan bahasa iklan ini. Merasa mendapat harga murah, mereka memborong Batik Tulis Lasem. Meskipun tanpa disadari, mereka sebenarnya membawa pulang Batik Tulis Lasem dengan kualitas rendah, baik fisik maupun artistiknya.
Bagaimana kalau kejadian itu menimpa Anda? Pasti kecewa. Maka, jangan mudah terprovokasi iklan Batik Lasem murah. Ingatlah selalu adigium ono rego ono rupo. Ada harga ada kualitas barang. Kualitas Batik Tulis Lasem erat kaitannya dengan harga. Semakin bagus kualitas Batik Tulis Lasem pasti semakin tinggi harganya.
Nah, agar tidak keblondrok saat belenja Batik Tulis Lasem, yakni dengan membayar harga yang tidak sesuai kualitas batik meski tampak lebih murah, sebaiknya mengetahui terlebih dulu faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas Batik Tulis Lasem.
Ada banyak faktor utama pendukung kualitas Batik Tulis Lasem, diantaranya jenis bahan/kain yang digunakan, jumlah warna, keunikan motif, dan keahlian sumber daya manusianya dalam memproses (processing) dan menyelesaikan (finishing) batik art (seni batik) ini.
Harga Berdasar Biaya Produksi
Menilai harga Batik Tulis Lasem bisa diawali dari besarnya biaya produksi, yang meliputi penggunaan bahan/kain , pewarna, tenaga kerja, dan faktor lainnya yang berkaitan dengan proses pembuatan Lasem Batik Art.
Ada tiga jenis bahan/kain yang umumnya digunakan untuk membuat Batik Tulis Lasem, yakni katun prima, katun primis, dan sutera. Setiap jenis kain ini (prima, primis, dan sutera ) juga memiliki tingkatan kualitas yang berbeda. Pastinya, semakin bagus kualitas bahan kain semakin besar biaya produksinya.
Namun pada dasarnya, Batik Tulis Lasem berbahan katun prima paling murah harganya. Batik ini acap disebut batik kasaran, karena dibuat dengan bahan yang kurang halus. Kualitas kehalusan katun prima memang kalah kelas dibanding katun primis dan sutera. Harga katun prima ini tentu saja yang paling murah, yakni minimal Rp30.000 untuk membuat selembar batik berukuran sekitar 240 x 105 cm.
Batik Tulis Lasem berbahan katun prima biasanya dijual dengan harga antara Rp150.000 hingga Rp 350.000 per lembar batik, tergantung jumlah warna dan keunikan motifnya. Namun biasanya, Batik Tulis Lasem berbahan katun prima berwarna dan bermotif sederhana.
Batik Tulis Lasem berbahan katun primis harganya lebih tinggi. Katun primis ini lebih halus dibanding katun prima, sehingga sering untuk membuat batik alusan. Pengrajin Batik Tulis Lasem harus mengeluarkan biaya minimal Rp60.000 untuk membuat selembar batik berbahan katun primis berukuran 240 x 105 cm.
Harga Batik Tulis Lasem berbahan katun primis biasanya diatas Rp300.000, tergantung jumlah warna dan keunikan motifnya. Semakin banyak warna dan semakin unik dan tinggi nilai artistiknya, harganya semakin tinggi. Jadi, jangan heran jika menjumpai Batik Tulis Lasem berbahan katun primis yang harganya bisa mencapai di atas Rp 1 juta.
Batik Tulis Lasem yang termahal berbahan sutera. Tidak heran, jika Batik Tulis Lasem sutera ini dibuat secara sangat terbatas, ekslusive, dan sangat tersegmentasi pada golongan kelas atas. Harga sutera ini tentu saja jauh dari harga katun prima dan primis.
Kemewahan sutra yang bersifat lembut,licin, mengkilap, dan kuat, manjadikan harga Batik Tulis Lasem bisa mencapai di atas Rp 4 juta per lembar batik, bergantung pada jumlah warna dan keunikan motifnya. Semakin banyak warna dan semakin unik motifnya, harga Batik Tulis Lasem Sutera ini dipastikan semakin melambung tinggi. (bersambung… harga berdasar warna)

Motif Batik Lasem

Batik Lasem Motif Non Cina, yakni Batik Tulis Lasem yang motif-motifnya tidak dipengaruhi oleh budaya Cina. Motif Batik Lasem ini didominasi motif batik Jawa, diantaranya: Sekar Jagad, Kendoro Kendiri, Grinsing, Kricak/Watu Pecah, Pasiran, Lunglungan, Gunung Ringgit, Pring-pringan, Pasiran Kawung, Kawung Mlathi, Endok Walang, Bledak Mataraman, Bledak Cabe, Kawung Babagan, Parang Rusak, Parang Tritis, Latohan, Ukel, Alge, Ceplok Piring, Ceplok Benik, Sekar Srengsengan, Kembang Kamboja, dan Sido Mukti.
Batik Lasem Motif Cina, yakni Batik Tulis Lasem yang motifnya dipengaruhi budaya China, bahkan unsur orientalnya sangat kental dan dominatif, diantaranya:
1.Motif Fauna Cina plus non Cina.
Contoh motif fauna Cina : motif burung hong (phoenix) yang dikenal sebagai Lok Can, naga (liong), kilin, ayam hutan, ikan emas, kijang, kelelawar, kupu-kupu, kura-kura, ular, udang, kepeting, dsb. Motif fauna Cina ini berkolaborasi dengan motif batik Jawa, seperti parang, udan riris, kawung, kendoro kendiri, sekar jagad, anggur-angguran, dsb.
2.Motif Flora Cina plus motif non Cina
Motif flora Cina misalnya bunga seruni (chrysanthemum), peoni, magnolia, sakura (cherry blossom), bamboo, dsb. Motif flora Cina ini juga sering bersimbiosis mutualisme dengan motif batik Jawa.
3.Motif lain bergaya Cina selain flora dan fauna plus motif batik non Cina.
Contoh motif lain( non flora fauna Cina) adalah kipas, banji, delapan dewa (pat sian), dewa bulan, koin uang (uang kepeng).
4. Motif kombinasi Cina plus motif batik non Cina
Maksud kombinasi motif disini adalah dalam satu Batik Lasem keeleganan motif fauna dan flora Cina berbaur dengan keindahan motif-motif batik Jawa.
Adanya keempat jenis kategori motif Batik Lasem tersebut, memberikan kebebasan kepada para pembatik Lasem dalam berkreasi. Mereka tidak terpaku pada pola motif baku (pakem). Yang terpenting, improvisasi dan kreativitas pembatik Lasem selalu tertantang untuk membuat batik yang bermotif unik dan khas, sehingga bernilai artistik estetik yang tinggi.
Motif Laseman
Kesemua jenis motif tersebut, motif non Cina dan Cina, disebut motif Laseman. Selama ini motif Cina-lah yang dikenal sebagai motif Laseman. Namun berdasarkan pertimbangan sosiologis historis berupa interaksi budaya lintas Cina Jawa di Lasem, diusulkan motif non Cina juga dapat dipromosikan bersama motif Cina yang sudah ada sebagai motif Batik Laseman.
Motif Laseman memiliki pengaruh sangat kuat pada batik Indramayu, Jambi, Palembang, pekalongan, Solo,dan Yogyakarta. Seperti halnya pengaruh motif batik dari berbagai daerah tersebut dalam perkembangan dinamika motif dalam batik Lasem. Sebagai contoh, konon seni batik Indramayu diperkenalkan oleh para pengrajin batik dari Lasem.

Batik Lasem Online

Menjual batik lasem secara online dan ofline, sentra batik lasem adalah satu-satunya Toko online batik lasem yang sangat terpercaya dalam melayani penjualan batik tulis asli lasem untuk informasi lebih lanjut silahkan anda mengunjungi dan melihat-lihat produk yang  dijual di toko online sentra batik lasem

Batik Tulis Lasem

Batik Tulis Lasem adalah suatu jenis batik yang di buat atau dikerjakan dengan tangan alias tampa industri konveksi, batik tulis lasem ini telah ada pada zaman kedatangan laksamana Cheng Ho yaitu pada tahun 1413 M. Babad Lasem karangan Mpu Santri Badra di tahun 1401 Saka ( 1479 M,), ditulis ulang oleh R Panji Kamzah tahun 1858 menyebutkan, anak buah kapal Dhang Puhawang Tzeng Ho dari Negara Tiong Hwa, Bi Nang Un dan istrinya Na Li Ni memilih menetap di Bonag setelah melihat keindahan alam Jawa. Ditahun inilah permulaan keberadaan atau lahirnya batik tulis lasem Na Li Ni mulai membatik bermotifkan burung hong, liong, bunga seruni, banji, mata uang dan warna merah darah ayam khas Tiong Hwa. Motif ini menjadi ciri khas unik Batik Lasem.
Keunikan Batik Tulis Lasem itu mendapat tempat penting di dunia perdagangan. Pedagang antarpulau dengan kapal kemudian mengirim Batik Tulis Lasem ke seluruh wilayah Nusantara. Bahkan diawal abad XIX Batik Lasem sempat diekspor ke Thailand dan Suriname. Batik Lasem memasuki masa kejayaan.

Rumah Batik Lasem

Rumah Batik Lasem Sentra Batik Lasem adalah sebuah nama toko dan tempat Work shop Batik Tulis asli lasem yang beralamat di daerah lasem Kab. Rembang. tempat ini memang sudah banyak di kunjungi oleh para kolektor batik baik dari daerah setempat atau daerah luar kota seperti Jakarta, semarang, Surabaya, Batam, serta para kolektor batik dari maca negara seperti malaysia thailand dan hongkong. nah bagi anda yang ingin membeli batik sekarang anda tidah harus repot repot datang ke rumah batik lasem anda bisa melakukan pembelian secara online yaitu dengan mentransfer uang batik akan segera di kirim tentunya sesuai pilihan yang bapak ibu inginkan. Rumah Batik Lasem melayani pembelian secara online sehingga memudahkan para pelanggan yang ingin membeli batik tampa harus berkunjung ke tempat. selain akan menghemat waktu dan biaya pembelian di rumah batik lasem harganya sama dengan datang ke tempat. untuk melakukan pembelian batik tulis lasem silahkan di lihat di sini  BATIK TULIS LASEM

Batik Lasem Murah

Anda Mencari batik lasem dengan harga murah diantara Penjual lainnya temukan hanya di sentra batik lasem. Sentra batik lasem adalah sebuah distributor batik sekaligus pembuat batik tulis lasem yang sudah terpercaya sejak lama. Batik lasem di sentra batik lasem memang tergolong murah diantara distributor lainnya, krna sentra batik lasem memiliki work shop tersendiri sehingga berani menjual batik hasil produksinya dengan harga yang tidak mahal. nah bagi anda yang ingin mencari batik lasem dengan harga murah silahkan anda berkunjung ke Sentra Batik Lasem yang beralamat di Lasem Kab. Rembang Jawa Tengan, tetapi bagi anda yang meraga ga punya waktu luang sentra batik lasem juga melayani pembelian dengan cara Online. untuk informasi produk sentra batik lasem silahkan klik Sentra Batik Lasem

Busana Batik Lasem

Busana Batik Lasem. Batik lasem memang identik dengan kain batik yang berukuran antara 1×2 m tetapi dengan perkembangan zaman kain batik dapat dijadikan busana seperti busana dari kain yang lain. Busana batik lasem sangat diminati oleh para penggemar batik. batik lasem dapat dibuat busana seperti kemeja batik lasem, hem batik lasem, serta dapat juga sebagai selendang batik lasem, selain itu ada juga tas yang terbuat dari batik lasem serta ada juga taplak meja yang terbuat dari batik lasem. selain sebagai Busana batik lasem juga dapat dijadikan berbagai macamkebutuhan seperti dompet dan acsesoris lainnya. untuk melihat lebih jelasnya batik lasem silahkan kunjungi  Sentra Batik Lasem

Batik Lasem Rembang

Batik lasem rembang adalah batik yang mempunyai motif dan ciri khas tertentu yang membedakan antara batik lainnya di seluruh tanah air. Nama Lasem adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Indonesia. Merupakan kota terbesar kedua di Kabupaten Rembang setelah kota Rembang.
Lasem dikenal juga sebagai “Tiongkok kecil” karena merupakan kota awal pendaratan orang Tionghoa di tanah Jawa dan terdapat perkampungan tionghoa yang sangat banyak. Di Lasem juga terdapat patung Buddha Terbaring yang berlapis emas. Kerajinan Batik Lasem sangat terkenal sejak lama yang diperkirakan telah ada sejak tahun 1413 batik lasem rembang ini cepat terkenal karena cirinya sebagai batik pesisir yang indah dengan pewarnaan yang berani atau mencolok. batik lasem rembang sangat diminati para kolector batik tingkat dunia dan akhir-akhir ini para pengusaha batik telah melakukan beberapa pameran seperti di Jakarta di MT Thamrin, JCC. Grand Indonesia DLL untuk melihat lebih jelasnya batik lasem Rembang Silahkan anda Kunjungi Sentra Batik Lasem

Batik Lasem Lok Can - Sentra Batik Lasem

Batik Lasem Lok Can sangat familiar di komunitas pecinta batik nusantara. Batik Lasem Lok Can bernilai seni tinggi dan sarat dengan makna filosofis kehidupan. Wajar jika para kolektor batik selalu memburu Batik Lasem Lok Can.
 
Batik Lasem Lok Can awalnya selalu dibuat berbahan sutera (bahasa Cina: Can = sutera). Warna motif dominan biru, khususnya biru muda (bahasa Cina: Lok = biru), dan warna latar belakang putih atau krem.

Namun kini, banyak dijumpai Batik Lasem Lok Can berbahan katun primis super halus dengan variasi warna yang semakin menarik dan terjangkau harganya.


Ornamen utama motif Batik Lasem Lok Can sesungguhnya berupa stailisasi burung hong (phoenix). Meski adakalanya dimodifikasi dengan motif burung kecil, seperti wallet atau sriti, yang banyak terdapat di Lasem. Stailisasi The Phoenix selalu diharmonisasikan dengan motif flora dan bahkan fauna.

Selain bernilai artstic estetis, Batik Lasem Lok Can memiliki makna sosial filosofis. Burung Phoenix (Hong) melambangkan kebajikan, prestasi, dan keabadian.

Jadi, jika Anda menginginkan aura kebajikan dan prestasi selalu terpatri di dalam aura pribadi Anda, sering-seringlah berbusana Batik Lasem Lok Can.

Busana Batik Lasem Lok Can membantu memotivasi Anda untuk menjadi pribadi plus yang penuh kebajikan dan berprestasi moncer. Amien.